Masyarakat mengenal kurang gizi sebagai busung lapar, meskipun dalam kesehatan dibedakan dalam kwashiorkor, maramus, kwashiorkor-marasmus atau hanya kurang gizi. Namun apapun istilahnya hal yang penting adalah penanganan yang optimal. Masalah gizi terjadi karena syarat pemberian makanan tidak terpenuhi, baik kurang maupun lebih dari pada yang dibutuhkan untuk umur, jenis kelamin dan kondisi-kondisi tertentu seperti banyaknya aktifitas, suhu lingkungan, maka akan terjadi keadaan malnutrisi. Penyimpangan yang sangat dari pada diet yang adekuat dalam waktu yang lama akan menimbulkan keadaan kekurangan yang lambat laun memperlihatkan gejala-gejala klinisnya.
Permasalahan gizi dapat terjadi karena masukan yang berlebihan yang terus-menerus menimbulkan keadaan gizi lebih (overnutrition). Keadaan gizi kurang (undernutrition) maupun gizi lebih (overnutrition) tidak selalu disebabkan oleh masukan makanan yang tidak cukup atau berlebihan. Keadaan demikian dapat juga terjadi oleh kelainan dalam tubuh sendiri seperti ganggguan pencernaan, absorbsi, utilisasi, ekskresi dan sebagainya (Pudjiadi, 2000).
Berikut ini beberapa tanda dan gejala gangguan gizi
Gejala klinis Kurang Energi Protein (KEP) yaitu: Pertumbuhan linier mengurang atau terhenti; Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, dan ada kalanya beratnya bahkan menurun; Ukuran lingkar lengan atas menurun; Maturasi tulang terhambat; Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun; Tebal lipat kulit normal atau mengurang; Anemia ringan; Aktivitas dan perhatian berkurang; Kelainan kulit maupun rambut jarang ditemukan, tetapi adakalanya dijumpai.
Gejala klinis Kwashiorkor, yaitu: Penampilannya seperti anak yang gemuk (suger baby) bilamana dietnya mengandung cukup energy disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya, terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi; Pertumbuhan terganggu, berat badan dibawah 80% dari baku Harvard persentil 50 walaupun terdapat edema, begitu pula tinggi badannya terutama jika KEP sudah berlangsung lama; Perubahan mental sangat mencolok, banyak menangis, dan stadium lanjut mereka sangat apatis; Edema baik yang ringan maupun yang berat ditemukan pada sebagian besar penderita kwashiorkor; Atrofi otot sehingga penderita tampak selalu lemah dan berbaring terus menerus; Gejala saluran pencernaan seperti anoreksia yang berat penderita menolak segala macam makanan, hingga adakalanya makanan hanya dapat diberikan melalui sonde lambung. Diare tampak pada sebagian besar penderita, dengan feses yang cair dan banyak mengandung asam laktat karena mengurangnya produksi lactase dan enzim disaharidase lain; rambut yang mudah dicabut sedangkan pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang kusam, kering, halus, jarang, dan berubah warnanya.rambut alispun menunjukkan perubahan demikian, akan tetapi tidak demikian dengan rambut matanya yang justru memanjang; Perubahan kulit yang khas bagi penderita kwashiorkor. Kelainan kulit berupa titik-titik merah yang menyerupai petechia, berpadu dengan bercak yang lambat laun menghitam. Setelah bercak hitam mengelupas, maka terdapat bagian-bagian merah yang dikelilingi oleh batas-batas yang masih hitam; Hati biasanya membesar; Anemia ringan.
Gejala klinis Marasmus yaitu: Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Anak terlihat sangat kurus (vel over been) karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-ototnya; Perubahan mental yaitu anak mudah menangis, juga setelah mendapat makan oleh sebab masih merasa lapar. Kesadaran yang menurun (apatis) terdapat pada penderita marasmus yang berat; Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak dibawah kulit dan otot-ototnya; Walaupun tidak kering seperti penderita kwashiorkor,adakalanya tampak rambut yang kering, tipis dan mudah rontok; Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang; Otot-otot atrofis, hingga tulang-tulang terlihat lebih jelas; Penderita marasmus lebih sering menderita diare atau konstipasi; seringkali terdapat bradikardi; tekanan darah lebih rendah dibandingkan dengan anak sehat seumur; frekuensi pernafasan yang mengurang; ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah.
Kwashiorkor Marasmik
Penyakit kwashiorkor marasmik memperlihatkan gejala campuran antara penyakit marasmus dan kwashiorkor. Makanan sehari-harinya tidak cukup mengandung protein dan juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan dibawah 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula (http://www.rajawana.com)
Admin-Faza

Komentar Terakhir